Jumat, 30 Juni 2023
Selasa, 28 Juni 2022
AKSI NYATA 3.3 – PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID
AKSI
NYATA 3.3 – PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID
Nama CGP : Dwi
Kurniawati Handayani
Sekolah : SDN Pagerbarang 03
Rancangan
Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid
A. Program Kegiatan
Gerakan Literasi Asyik (GELAS)
B. Tujuan Kegiatan
Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan
literasi murid melalui kegiatan literasi yang menngasyikkan
C. Aset yang
Dioptimalkan
|
1. |
Modal Manusia |
: |
Seluruh warga
sekolah (guru dan murid) |
|
2. |
Modal Fisik |
: |
Bangunan sekolah |
1.
FACT (PERISTIWA)
Latar
Belakang Situasi yang dialami Guru Penggerak
SD
Negeri Pagerbarang 03 adalah salah satu
sekolah dasar yang ada di kecamatan
Pagerbarang. Sekolah yang dekat dengan kantor Balai Desa. Gerakan literasi merupakan hal pokok utama
untuk dilakukan di dunia pendidikan khususnya sekolah. Gerakan ini akan
mendorong anak untuk masuk ke dunia yang penuh makna dan menjadikan dunia
berada di genggaman tangannya. Di era Digital ini kondisi anak-anak
mengalami penurunan dalam karakter yang sering disebut degradasi moral. Di
zaman sekarang sangat jarang sekali anak melakukan Literasi karena sibuk
dengan gadget dan game online. Mereka lebih cenderung menyendiri bersama
gadgetnya sehingga tidak ada sosialisasi bersama teman, keluarga dan sanak
saudaranya. Program ini sekaligus untuk mempersiapkan
siswa untuk menghadapi Asesmen Kompetetensi Minimum di kelas 5 nanti yang
merupakan salah satu program Merdeka belajar adalah kebijakan besar dalam
rangka mewujudkan transformasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. Salah
satunya dengan menghapus Ujian Nasional (UN) diganti. Asesmen Kompetensi
Minimum (AKM). AKM terdiri dari literasi membaca dan literasi berhitung.
Hasil
dari Aksi Nyata
Hasil
dari aksi nyata yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1.
Menumbuhkan minat baca siswa.
2.
Mengembangkan bakat siswa di bidangnya masing-masing
3.
Meningkatkan kreatifitas siswa dalam berkarya.
4.
Memperkaya pengetahuan kosakata
5.
Mewujudkan sekolah dengan pembiasaan budaya Literasi
Monitoring,
Evaluasi, Learning dan Reporting
Monitoring
dilakukan oleh kepala Sekolah dan Siswa. Evalusi dilakukan secara berkala dan
menyeluruh terhadap program ini oleh Kepala Sekolah dan Guru. Learning
dilakukan rencana tindak lanjut dari hasil evaluasi sebagai bahan pembelajaran
dan temuan untuk perbaikan praktik selanjutnya. Reporting dilakukan oleh guru sebagai pembina yang membuat
laporan tertulis dan lisan secara berkala kepada kepala sekolah dan orang tua siswa
Metode
pengambilan Data
Untuk melihat
apakah kegiatan Gerakan Literasi dapat meningkatkan minat baca siswa, data yang
diperoleh dapat dilakukan dengan wawancara atau observasi
Strategi
pengolahan Data
Dari Jawaban hasil
Observasi dan wawancara dapat di buat suatu kesimpulan yang dapat digunakan
untuk perbaikan ke depan.
Evaluasi
Pelaksanaan Program
Faktor Pendukung:
Dukungan kepala
sekolah, Wakasek, Bendahara BOS, Rekan Guru, Siswa dan Orangtua
2. Koordinasi dan kolaborasi dengan rekan sejawat dan kepala sekolah juga
orangtua secara berkelanjutan.
Jika Program GELAS
berdampak signifikan terhadap siswa maka diharapkan secara bertahap seluruh
kelas disediakan pojok baca dan diadakan lomba Bakat siswa di bidang Literasi.
2.
FEELING (PERASAAN)
Perasaan ketika dan
setelah menjalankan Aksi Nyata. Perasaan saya sangat senang dan bahagia
karena melalui program budaya literasi disekolah ini Murid mempunyai wawasan
luas,cerdas dan berkarakter. Proses menumbuhkan budaya Literasi ternyata
mampu memberi dampak dan perubahan besar dalam meningkatkan proses dan hasil
belajar siswa di sekolah. Siswa mampu menemukan sendiri kebahagiaannya, murid
merasakan kenyamanan berada di sekolah dengan memberikan kebebasan untuk
belajar / membaca sesuai dengan minatnya.
3.
FINDINGS (PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH)
Secara keseluruhan
hasil dari yang kami dapat pada setiap tindakan aksi nyata yang kami lakukan
menunjukkan perubahan yang cukup baik, khususnya pada tahap program yang
berdampak pada siswa dari segi peningkatan kompetensinya. Pembelajaran tentang
program yang berdampak pada murid melalui Program Literasi Sekolah, menjadikan
saya sadar bahwa memberikan kebebasan kepada siswa dengan menemukan sendiri dan
menggali potensinya membuat pembelajaran yang mereka dapatkan lebih bermakna,
sehingga ilmu dan wawasan mereka bertambah sehingga nantinya peserta didik
mampu memilah sendiri informasi yang bermanfaat untuk dirinya ke depan menuju
pelajar pancasila. Disamping itu dengan berkolaborasi dan berkomunikasi yang
baik maka program dapat terwujud sesuai dengan tujuan yang kita inginkan. Untuk
pengadaan buku di perpustakaan selain dari pembelian dana BOS kami juga
mendapatkan bantuan kemdendikbud.
4.
FUTURE ( RENCANA PERBAIKAN DI MASA DEPAN)
Dalam setiap
program tentu memiliki proses dan tahapan, dari proses dan tahapan-tahapan ini
kami mengevaluasi dari setiap kegiatan yang telah kita laksanakan, dari hasil
evaluasi ini kami merencanakan perbaikan yang dianggap perlu dan memaksimalkan
tahapan selanjutnya.Adapun Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa
mendatang adalah program ini harus dilaksanakan dengan telaten dan
berkelanjutan (konsisten). Upaya mengatasi kendala dalam pelaksanaan gerakan
literasi sekolah di antaranya dengan memanfaatkan buku bacaan yang ada dengan
semaksimal mungkin dan terus-menerus memberikan motivasi kepada siswa.
Dokumentasi
Kegiatan Literasi










Sabtu, 25 Juni 2022
JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-24
DWI KURNIAWATI HANDAYANI, S.Pd.
CGP ANGKATAN 4
KABUPATEN TEGAL
MODEL 5R
REPORTING
Materi
di minggu terakhir ini diawali dengan demonstrasi kontekstual modul 3.3
mengenai pengelolaan program yang berdampak pada murid. Kemudian dilanjutkan
dengan Elaborasi pemahaman atau sesi instruktur bersama Ibu Indra Sari untuk
menguatkan pemahaman mengenai pengelolaan program yang berdampak pada murid. Selanjutnya
koneksi antarmateri dan aksi nyata mengenai pengelolaan program yang berdampak
pada murid. Kegiatan minggu ini diakhiri dengan kegiatan Lokakarya 6 Pendidikan
Guru Penggerak bertempat di SMK Muhammadiyah Slawi pada tanggal 18 Juni 2022.
RESPONDING
Materi
Pengelolaan Program Yang Berdampak Pada Murid merupakan materi baru yang
sebelumnya saya belum pernah dapatkan. Dalam mengelola Program Yang Berdampak
Pada Murid, salah satu panduan yang digunakan adalah dengan menerapkan paradigm
Inkuiri Apresiatif melalui tahapan BAGJA, Manajemen Resiko dan MELR.
RELATING
Setiap
Sekolah pasti selalu membuat program, tapi belum dimulai dari 7 aset/ modal
yang dimiliki sekolah. Ketujuh modal tersebut yaitu modal sumber daya manusia,
modal social, fisik atau sarana dan prasarana, lingkungan/ alam, politik, finansial,
serta agama dan budaya dapat digunakan sebagai penunjang program sekolah yang
diharapkan. Sebagai implementasi dari pemanfaatan 7 aset/ modal yang menunjang
pembelajaran.
RECONSTRUCTING
Setelah mempelajari dan
memahami mengenai pengelolaan program yang berdampak pada murid, saya akan
mengaplikasikannyab dalam kehidupan sehari-hari. Dalam mengelola suatu Program yang
berdampak pada murid yang terdiri atas bagian BAGJA, Manajemen Resiko dan
Strategi MELR.
REASONING
Salah satu panduan yang dapat
digunakan adalah dengan menerapkan paradigm inkuiri Apresiatif melalui tahapan
BAGJA, manajemen resiko dan MELR.
Kamis, 23 Juni 2022
JURNAL REFLEKSI MINGGU KE-23
DWI
KURNIAWATI HANDAYANI, S.Pd.
CGP
ANGKATAN 4
KABUPATEN
TEGAL
MODEL 4C
CONNECTION
Materi yang dipelajari sebelumnya dengan minggu ini memiliki
korelasi yang tepat. Guru penggerak berperan untuk membuat komunitas belajar yang berdampak pada murid. Dan hal
tersebut terwujudkan dalam penyusunan program sekolah.
CHALLENGE
Program sekolah yang selama
ini saya jalankan baru pada tahap monitoring dan evaluasi, sedangkan pada tahap
learning dan reporting agak terabaikan. Learning sangat bermanfaat untuk refleksi.
Sehingga rangkaian analisis dan metodologi tepat digunakan
untuk mengidentifikasi, mengukur, mengendalikan, dan mengevaluasi resiko yang
mungkin timbul dari suatu sekolah.
CHANGE
Perubahan yang saya lakukan:
-
Memetakan asset sekolah yang dimiliki
-
Memanfatkan asset untuk mendukung keberhasilan
program yang berdampak pada murid
CONCEPT
Menerapkan pemahaman yang telah dipelajari mengenai tahapan
pengelolaan program. Mendesain sebuah
program sekolah yang berdampak pada murid dengan melibatkan komunitas dan orang
tua dengan melalui tahapan BAGJA dan membuat kerangka monitoring, evaluasi dan
pembelajaran.
Rabu, 22 Juni 2022
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3 – PENYUSUNAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID
KONEKSI
ANTAR MATERI MODUL 3.3 – PENYUSUNAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID
DWI
KURNIAWATI HANDAYANI, S.Pd.
CGP
ANGKATAN 4
KABUPATEN
TEGAL
Modul 3.3 ini
merupakan paket modul terakhir dalam rangkaian Program Pendidikan Guru
Penggerak. Modul ini berisi tentang Pengelolaan Program yang Berdampak pada
Murid dimana dibahas tentang bagaimana membuat program dengan tahapan BAGJA,
melakukan strategi MELR (Monitoring, Evaluation, Learning, and Reporting),
melakukan manajemen resiko dimana di sini dibahas bagaimana meminimalkan resiko
yang akan timbul dari program yang dibuat.
Koneksi dengan
Modul 3.1 Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
Dalam merencanakan dan melaksanakan
program sekolah yang berdampak pada murid, seorang guru harus dapat mengambil
keputusan yang tepat saat dihadapkan pada suatu masalah atau kondisi selama
pelaksanaan program yang berdampak pada murid, bahkan dalam memutuskan jenis
program yang akan dilaksanakan. Semua harus benar-benar direncanakan dengan
baik dan matang dengan selalu mempertimbangkan berbagai hal.
Koneksi dengan
Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
Dalam menyusun program yang berdampak
pada murid, jelas akan sangat dipengaruhi sejauh mana asset atau modal yang
dimiliki sekolah dapat diberdayakan untuk mendukung pelaksanaan program yang
berdampak pada murid. Penyusunan program berdampak pada murid harus diawali
dengan pemetaan asset atau modal yang dimilki sekolah sehingga ada prioritas
asset yang akan menjadi kekuatan dalam melaksanakan program. Sekolah memeilki 7
aset atau modal yang akan mendukung program yang berdampak pada murid yaitu :
1. Modal manusia
2. Modal sosial
3. Modal fisik
4. Modal
lingkungan/alam
5. Modal finansial
6. Modal politik
7. Modal agama dan
budaya
Koneksi dengan
Modul 2 Pembelajaran Berdiferensiasi, Pembelajaran Sosial Emosional dan
Coaching.
Pembelajaran
berdiferensiasi menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan kepada
murid untuk dapat memenuhi kebutuhan belajar murid yang sangat beragam.
Pembelajaran berdifensiasi dapat dimasukkan dalam program yang berdampak pada
murid, karena dalam pembelajaran berdiferensiasi, mengarahkan guru untuk selalu
melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada murid, sehingga hal ini dapat
selaras dengan program yang berdampak pada murid. Melaui pembelajaran
berdiferensiasi, setiap murid dapat secara merdeka mengekspresikan
kreatifitas, ide, dan karyanya sesuai bakat, minat, kemampuan, potensi dan gaya
belajar yang berbeda. Guru berperan sebagai penuntun yang hanya memastikan
bahwa segala kebutuhan murid untuk bertumbuh dan berkembang dapat terpenuhi dengan
baik.
Dalam proses pelaksanaannya terkadang
dijumpai masalah yang membutuhkan solusi secara bijaksana, dalam kondisi
seperti ini, praktik coaching menjadi pilhan terbaik, karena melaui kegiatan
coaching seorang guru (coach) akan menuntun murid (coachee) untuk dapat
menemukan sendiri solusinya melalui komunikasi asertif yang mengalir indah
melalui berbagai pertanyaan yang disampaikan coach. Melalui coaching, seorang
guru dapat mendukung coachee untuk dapat mengeluarkan dan mengembangkan smeua
kemampuannya untuk menemukan potensi yang dimiliki dan menemukan solusi dari
persoalana yang ada. Melalui coaching, murid akan dapat menukan ide, gagasan,
dan kreatifitasnya. Melalui coaching pula, kita dilatih utk mengendalikan
emosi, perasaan, dan suasana hati melaluipembelajaran social emosional. Dengan
control diri yang baik, seorang guru dapat membuat keputusan yang bijaksana
dalam menentukan program yang berdampak pada murid.
Modul 1.1 Filosofi
Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa maksud Pendidikan menurut KHD adalah
menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinginya baik sebagai
manusia maupun anggota masyarakata. Hal ini jelas sekali dengan bagaimana kita
menyiapkan dan menyususn program yang berdampak pada murid, sehingga setiap
murid dengan kodrat alam yang dimiliki dapat mengembangkan segala minat, bakat
dan kemampuan serta potensi yang ada dalam program yang kita susun, sehingga
akan memciptakan merdeka belajar bagi murid untuk mencapai profil pelajar
Pancasila.
Modul 1.2 Nilai dan
Peran Guru Penggerak mengkaji tentang bagaimana seorang
guru sebagai pemimpin harus mampu mengelola program sekolah yang
berdampak pada murid dengan menerapkan nilai-nilai dan peran seorang guru dalam
kesehariannya. Diantaranya adalah nilai mandiri, reflektif, kolaboratif,
inovatif, dan berpihak pada murid.
Modul 1.3 Visi dan
Misi Guru Penggerak , guru sebagai seorang pemimpi
pembelajaran harus mampu menyusun visi dan misi dengan mengimplementasikan
pembelajaran berpusat pada murid dalam penyususnan visi dan misisnya,
serta dapat selalu berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah untuk mewujudkan
hal tersebut. Dalam penyusunan program berdampak pada murid perlu dilakukan
dengan melakukan pendekatan inkuiri apresiatif melalui tahapan BAGJA nya
sehingga program yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan murid dan
berdampak kepada murid.
Modul 1.4 Budaya
Positif, sebagai seorang penuntun dan pemimpin pembelajaran, seorang
guru harus dapat menciptakan program sekolah yang berdampak pada murid,
sehingga pada murid akan tertanam nilai-nilai positif yang akan mewujudkan
budaya positif di sekolah.
Dari keseluruhan ulasan di atas,
jelas sekali bahwa semua program yang berdampak pada murid, memilki keterikatan
dengan semua materi pada modul Program Guru Penggerak, sebagai satu kesatuan
yang harus dipahami dan diterapkan oleh setiap guru dalam menjalankan fungsi
dan perannya.
Senin, 13 Juni 2022
AKSI NYATA 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
AKSI NYATA
3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
DWI
KURNIAWATI HANDAYANI, S.Pd.
CGP
ANGKATAN 4
KABUPATEN
TEGAL
Sebagai guru atau pemimpin
pembelajaran, kita sering sekali dihadapkan pada situasi atau dilema yang
menuntut kita sebagai guru bijak dalam mengambil keputusan. Sebuah dilema
dimana terjadi pertentangan antara benar atau salah atau bujukan moral ataupun
pertentangan dua kebenaran atau dilema etika. Pada situasi dilema etika,
diperlukan paradigma atau nilai-nilai kebajikan universal, rasa tanggungjawab
dan juga keberpihakan pada murid sehingga seorang pemimpin pembelajaran bisa
mengambil keputusan yang beretika.
Etika dan moral adalah kontruksi
yang mengatur perilaku manusia. Nilai nilai etika dan moral inilah yang membuat
kita bisa membedakan baik dan buruk, apa yang harus kita lakukan, bagaimana
bertindak, dan bahkan aspek apa yang kita utamakan maupun kita pedulikan.
Namun,
terkadang kita menghadapi situasi dimana kita tidak tahu apa yang harus
kita lakukan, apa yang harus kita putuskan, memilih A atau B dari dua hal yang
sama sama memiliki nilai positif atau nilai kebenaran yang menyeret kita masuk
pada konflik dan membuat kita masuk dalam situasi dilema.
Dalam
situasi dilema etika dimana ada konflik antara beberapa nilai dan
keyakinan, tidak ada solusi yang benar-benar baik dan pilihan yang benar-benar
buruk, keduanya memiliki dampak positif dan negatif yang bersamaan.
Dalam
pengambilan keputusan, di situasi dilema etika inilah keputusan kita akan
diuji. Keputusan kita mencerminkan elemen atau nilai apa yang kita perhitungkan
dan utamakan dalam membuat keputusan.
Dilema
etika merupakan situasi yang terjadi ketika wali kelas harus memilih antara dua
pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan, sedangkan
bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat
keputusan antara benar atau salah. Ada 4 paradigma pengambilan keputusan yaitu
:
- Individu
vs community
- Keadilan
(justice) vs rasa kasihan (honesty)
- Kebenaran
lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
- Jangka
pendek lawan jangka panjang (short
term vs long term)
Disamping
itu pada modul ini dikenalkan 3 prinsip pengambilan keputusan :
- Berpikir
Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based
Thinking),
- Berpikir
Berbasis Peraturan (Rule-Based
Thinking),
- Berpikir
Berbasis Rasa Peduli (Care-Based
Thinking).
Sebelum
menentukan keputusan yang baik bagi sesama harus ditempuh 9 langkah pengambilan
dan pengujian keputusan:
- Ke-1
mengenali nilai-nilai yang bertentangan,
- Ke-2
menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut,
- Ke-3
mengumpulkan fakta yang relevan,
- Ke-4
melakukan pengujian benar atau salah dengan uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran dan uji panutan,
- Ke-5
pengujian paradigma benar lawan benar,
- Ke-6
melakukan prinsip pengambilan keputusan,
- Ke-7
investigasi opsi trilemma,
- Ke-8
membuat keputusan,
- Ke-9
melihat kembali keputusan dan melakukan refleksi.
Kasus
Dilema Etika di Sekolah
Pada pembelajaran
matematika di kelas 4B semester 2 ada materi Pengukuran sudut. Sejak semester 1
saya selaku guru kelas/ wali murid sudah memerintahkan siswa untuk
mempersiapkan penggaris busur guna digunakan untuk pembelajaran materi
pengukuran sudut tersebut di semester 2.
Pada semester
2 awal pun guru kelas selalu mengingatkan muridnya untuk mempersiapkan penggaris busur. Hingga pada
bulan mei 2022 pembelajaran materi tersebut akan dilaksanakan. Hari senin guru
kelas sudah memerintahkan murid untuk membawa penggaris busur pada hari selasa
besok paginya. Ternyata pada hari selasa para murid yang berjumlah 22 orang,
hanya 2 anak yang membawa penggaris. 2 anak mengatakan penggaris busurnya
ketinggalan dirumah dan sisanya 18 anak belum mempunyai penggaris sama sekali. Guru
kelas merasa sangat kecewa karena sudah diperingatkan jauh-jauh hari mengenai
persiapan penggaris busur. Berhubung pelaksanaan PAT (Penilaian Akhir Tahun) waktunya
seminggu lagi, maka guru kelas mengalami
dilema etika, apakah pembelajaran pengukuran sudut tersebut dilaksanakan atau
tidak. Seandainya dilaksanakan pun hanya 2 anak yang membawa penggaris maka
hanya 2 anak tersebut yang paham akan materi tersebut, sedangkan yang lainnya
tidak. Jika tidak dilaksanakan maka anak akan kesulitan dalam mengerjakan soal
PAT. Maka saya melakukan pertimbangan dengan beberapa langkah
yang saya lakukan dalam pengambilan keputusan:
1.
Paradigma berpikir
Saya
mengambil keputusan berdasarkan paradigma justice vs mercy atau keadilan lawan
rasa kasihan. Di satu sisi saya harus berlaku adil kepada semua siswa mengenai
proses pembelajaran dan cara memperoleh nilai, namun di satu sisi saya merasa
kasihan kepada murid saya apabila tidak mendapatkan materi pembelajaran
tersebut. Selain itu saya juga berpikir berdasar pengaruh jangka panjang lawan
jangka pendek, dimana saya berpikir tentang masa depan murid tersebut mengenai
materi yang pastinya akan bermanfaat di masa yang akan datang.
2.
Resolusi berpikir
Dari
ketiga prinsip berpikir, saya menggunakan prinsip care based thinking atau berpikir berbasis rasa peduli. Karena saya
merasa peduli dan sayang kepada semua murid saya. Mereka harus mendapatkan
materi yang sesuai dengan kurikulum yang ada.
3.
Pengujian Keputusan
Langkah
selanjutnya, saya mengikuti 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
9
langkah tersebut adalah
Langkah
1: Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam
situasi ini.
Nilai
yang bertentangan adalah benar jika saya memberikan materi tersebut walaupun
hanya ada 2 anak saja yang membawa penggaris. Benar juga jika saya tidak
memberikan materi tersebut karena sebagian besar tidak membawa penggaris.
Langkah
2: Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
Dalam
situasi ini yang terlibat adalah saya, murid dan rekan guru lain dan
orang tua murid.
Langkah
3: Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
Fakta
yang relevan adalah saya sudah mengingatkan anak-anak jauh-jauh hari selama
berbulan-bulan untuk mempersiapkan pembelajaran pengukuran sudut, agar murid –murid
mempersiapkan penggaris busur. Namun saat hari H mereka tidak membawanya.
Langkah
4: Pengujian benar atau salah, yang terdiri atas:
·
UjiLegal
menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan
yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah.
Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya
keputusan yang berhubungan dengan moral. Dalam hal ini tidak ada pelanggaran.
·
Uji Regulasi/ Standar Profesional
Berhubungan dengan pelanggaran peraturan atau kode etik. Dalam hal ini
tidak ada.
·
Uji Intuisi
Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan
apakah ada yang salah dengan situasi ini. Uji intuisi ini akan mempertanyakan
apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda
yakini. Dalam hal ini saya merasa ada yang berlawanan dengan nilai nilai
yang saya yakini, namun ada perasaan kasihan yang saya rasakan kepada
murid-murid.
·
Uji Halaman Depan Koran
Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan
dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba
menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan hal itu
akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi bujukan moral atau benar
lawan salah. Dalam hal ini saya merasa nyaman jika keputusan saya di
publikasikan.
·
Uji Panutan/Idola
Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh
seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini
fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau
ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat
berarti bagi Anda. Dalam hal ini saya yakin idola sayapun akan mengambil
keputusan yang sama dengan saya.
Langkah
5: Pengujian Paradigma Benar lawan Benar
Mengidentifikasi
paradigma sangat penting karena, ini bukan hanya menganalisis permasalahan
namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul
mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.
Berdasarkan
analisis saya, saya menggunakan 2 paradigma yaitu justice vs mercy atau keadilan lawan rasa kasihan dan juga jangka
pendek vs jangka panjang
Langkah 6: Melakukan Prinsip Resolusi , yang
terdiri dari 3 prinsip berpikir yaitu:
·
Berpikir Berbasis Hasil Akhir
(Ends-Based Thinking)
·
Berpikir Berbasis Peraturan
(Rule-Based Thinking)
·
Berpikir Berbasis Rasa Peduli
(Care-Based Thinking)
Dari
ketiga prinsip berpikir, saya mengambil keputusan berdasarkan prinsip care based thinking
Langkah
7: Investigasi Opsi Trilema
Mencari
opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi
ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak
terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan
menyelesaikan masalah.
Untuk
memenuhi rasa keadilan pada siswa saya maka saya menyampaikan permasalahan
tersebut kepada rekan sejawat dan orang tua murid. Dan hasilnya adalah orang
tua murid ikut membantu mempersiapkan penggaris busur sehingga sejunlah 21 murid
membawa penggarsi busur saat hari Jumat seperti yang telah disepati. (1 murid
tidak berangkat).
Langkah
8: Buat Keputusan
Saya
memutuskan memberikan materi pengukuran sudut kepada semua murid setelah mereka
menyepakati akan membawa penggaris busur pada hari jumat. Dengan bekerjasama
dengan rekan sejawat dan orang tua murid, akhirnya pembelajaran dapat
terlaksana dengan baik.
Langkah
9, Tinjau lagi keputusan dan refleksikan
Setelah
saya mengambil keputusan, saya merasa keputusan saya tepat, karena sayapun
memahami bahwa anak kelas 4 SD masih dalam tahap pengawasan orang tua yang
ekstra. Seperti mempersiapkan perlengkapan alat tulis mereka perlu dipersiapkan
oleh orang tuanya. Karena itu diperlukan kerjasama yang baik antara guru dna
orang tua murid.
Dokumentasi:

Berdiskusi dengan rekan sejawat



Saat pembelajaran pengukuran sudut
